Kimia Medisinal ( Antikonvulsi)
Obat antikejang adalah senyawa kimia
yang secara selektif dapat menekan sistem saraf pusat dan digunakan untuk
mengontrol dan mencegah serangan tiba-tiba dari epilepsy tanpa menimbulkan
depresi pernapasan. Epilepsi adalah gejala kompleks yang dikarakterisasi oleh
kambuhnya serangan hebat disritmia otak disertai dengan gangguan atau hilangnya
kesadaran dan kadang-kadang disertai dengan pergerakan tubuh (kejang),biasanya
waktunya pendek dan terjadi pada orang tertentu. Obat antikejang bersifat
simptomatik,hanya meringankan gejala saja tetapi tidak menyembuhkan,sehingga
pengobatan epilepsy diberikan untuk seumur hidup.
Mekanisme kerja Obat Anti Epilepsi (OAE)
dapat dikategorikan dalam empat kelompok utama :
1. Modulasi
voltage-gated ion channels, termasuk natrium,kalsium, dan kalium
2. Peningkatan
inhibisi GABA melalui efek pada reseptor GABA-A, transporter GAT-1 GABA, atau
GABA transaminase
3. Modulasi
langsungterhadap pelepasan sinaptik seperti SV2A dan α2δ
4. Inhibisi
sinap eksitasi melalui reseptor glutamat ion otropik termasuk reseptor AMPA.
Efek utama adalah modifikasi mekanisme
burst neuron dan mengurangi sinkronisasi pada neuron. OAE juga menghambat firing abnormal
padaarea lain. Beberapa bangkitan,misalnya bangkitan
absanstipikal disebabkan karena sinkronisasi talamo kortikal, sehingga OAE yang
bekerja menghambat mekanisme tersebut efektif untuk mengobati bangkitan absans
tipikal.Kebanyakan target OAE adalah pada kanal natrium, kalium, dan reseptor
GABA-A(Husna dan Kurniawan.,2018).
Pada umumnya banyak obat antikejang
mempunyai dua struktur yang karakteristik yaitu, gugus yang bersifat polar,
biasanya gugus imido dan gugus yang bersifat lipofil. Antikejang yang mempunyai
struktur sederhana , kemungkinan berinteraksi secara tidak selektif dan
menimbulkan beberapa tipe kerja, sedang struktur yang lebih kompleks
menunjukkan keselektifan yang lebih besar dan spectrum kerja yang lebih sempit.
Kemungkinan lain, gugus yang lain interaksinya lebih besar pada daerah reseptor
yang lain sehingga masing-masing gugus menyebabkan kerja kualitatif yang
berbeda.
Obat antikejang seperti klonazepam,
diazepam, fenobarbital dan asam valproate, bekerja dengan meningkatkan
aktivitas sistem penghambatan mediator GABA. Etoksuksimid, trimetadion dan juga
asam valproate bekerja dengan memblok aktivitas yang menimbulkan serangan dari
leusin enkefalin, karena diduga sistem neurotransmitter enkefalinergik terlibat
dalam peristiwa hilangnya epilepsi.
Berdasarkan struktur kimianya obat antikejang
dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu turunan barbiturat, turunan
hidantoin,turunan oksazolidindion, turunan suksinimida, turunan benzodiazepine,
turunan asam valproat dan turunan dibenzazepin.
Obat antikejang turunan barbiturate,
hidantoin, oksazolidindion dan suksinimida mempunyai persamaan menarik yaitu
sama-sama mengandung struktur ureida. Turunan obat antikejang yang mengandung
strukur ureida dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
1. Turunan
Barbiturat
Turunan
barbiturat ini efektif digunakan untuk mengontrol serangan grand mal dan
parsial(psikomotor).
Contohnya : fenobarbital
dan mefobarbital
2. Turunan
Hidantoin
Contohnya : fenition Na, mefenitoin dan etotion.
3.
Turunan Oksazolidindion
Turunan oksazolidindion efektif untuk pengobatan serangan
petit mal dan tidak efektif pada grand mal. Turunan ini menimbulkan efek
samping seperti iritasi lambung, mual, pusing dan gangguan penglihatan yang
lebih serius dapat menimbulkan anemia aplastik dan depresi sumsum tulang
belakang dan kerusakan ginjal.
Contoh : trimetadion dan parametadion
4.
Turunan Suksinimida
Turunan suksinimida mempunyai aktivitas yang moderat terhadap
serangan petit mal da tidak efektif terhadap serangan grand mal.
Contoh :
fensuksimid dan etoksuksimid.
5.
Turunan Benzodiazepin
Turunan benzodiazepin adalah penekan sistem saraf pusat yang
terutama digunakan sebagai sedatif-hipnotik dan relaksasi otot. Beberapa diantaranya
juga efektif untuk pengobatan serangan epilepsi, tetapi penggunaannya terbatas
karena cepat menimbulkan toleransi.
Contoh : diazepam,flurazepam dan lorazepam.
6.
Turunan Asam Valproat
Digunakan untuk pengobatan serangan petit mal dan mioklonik. Efek
antikejangnya
berhubungan dengan meningkatnya kadar GABA di otak.
7.
Turunan Dibenzazepin
Contoh : karbamazepin, Okskarbazepin dan Lamotrigin
Daftar Pustaka
Husna, M dan S.N. Kurniawan. 2018. Mekanisme Kerja Obat Anti
Epilepsi Secara Biomolekuler. MNJ.
4(1):38-45.
Siswandono dan Soekadjo. 2000. Kimia Medisinal edisi 2. Airlangga University Press : Surabaya.
Permasalahan
1. Mengapa efek yang diberikan pada turunan barbiturat dan suksinimida berbeda padahal sama-sama mengandung struktur ureida ?
2.Bagaimana mekanisme dari Barbiturat?
3. Mengapa perlu dilakukan modifikasi suatu struktur obat ?
Hai maya pasae saya kan mencoba mnjwb soal no 3.
BalasHapus1. Untuk Meningkatkan aktivitias obat
2.Menurunkan efek samping atau toksisitas
3.Meningkatkan selektivitas obat
4.Memperpanjang masa kerja obat
Hai maya pasae saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1. Karena obat memiliki 3D.misalnya ruang sama, struktur sama tetapi efek terapi yang dihasilkan dapat berbeda, tergantung dibagian mana yang dikehendaki untuk berikatan dengan reseptornya.
BalasHapusTerimakasih maya, materi yang bermanfaat sekali. saya akan mencoba menyelesaikan permasalahan yang ke 2, yaitu mekanisme dari barbiturat. Barbiturat menyerang tempat ikatan tertentu pada reseptor GABA A sehingga kanal ion klorida terbuka lebih lama yang membuat klorida lebih banyak masuk dan menyebabkan hiperpolarisasi serta pengurangan sensitivitas sel-sel GABA. Barbiturat merupakan agonis dari GABA yang berkerja mirip dengan GABA sehingga ketika terjadi hiperpolarisasi maka tidak terjadi depolarisasi, dengan begitu tidak terjadi pontesial aksi dan terjadinya anastesi. Demikian yang saya ketahui maya. Terimakasih.
BalasHapus